http://mediamanado.com/wp-content/uploads/2014/05/iklan10a1.jpg
Breaking News

Jenry Sualang Optimis Perang Tondano Jadi Bahan Ajar Muatan Lokal Lembaga Pendidikan di Daerah

20200522_085612_640x628

MANADO, MediaManado.com – Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut Jenry Sualang SPd MAP optimis Peristiwa Heroik Tou Minahasa melawan Belanda di Minahasa yang dikenal dengan ‘Perang Tondano’ tahun 1807-1809 bakal dimasukan dalam kurikulum sebagai bahan ajar Muatan Lokal pada lembaga pendidikan di daerah ini.

Hal itu disampaikan Jenry Sualang kepada MediaManado.com, usai mengikuti diskusi online, FGD (Forum Grup Diskusi) yang digagas DPP KKK dan DPP GPPMP melalui Zoom Meeting, Kamis (21/05/2020) malam.

FGD inipun menghadirkan narasumber seperti Dr. Bennie Matindas (Budayawan Minahasa), Dr Fendy Parengkuan (Sejarawan Minahasa) dan Jenry Sualang SPd MAP (Kepala Dinas Kebudayaan Prov. Sulut).

Acara ini, dibuka melalui sambutan Ketua KKK Dr Ronny Sompie dan Ketua DPP GPPMP Jefrey Rawis dan dikuti sejumlah tokoh muda peduli kebudayaan dan sejarah Minahasa.

Kadis Kebudayaan Jenry Sualang mengatakan, diskusi online FGD yang digagas KKK dan DPD GPPMP ini bertujuan;

Pertama, mengenali kembali Perang Tondano dalam konteks sejarah Minahasa pada kisaran tahun 1807-1809

Kedua, mempromosikan Perang Tondano menjadi bahan ajar sejarah Minahasa dan sikap terhadap penjajahan

Ketiga, mengidentifikasi strategi dan proses penempatan sejarah tersebut dalam konteks sejarah Indonesia sama seperti Perang Padri & Perang Diponegoro.

Sehingga, tambah Sualang, dari hasil diskusi ini diharapkan dapat merumuskan sejumlah rekomendasi, saran dan juga masukan bagi lembaga-lembaga di Tanah Minahasa dan bahkan Pemerintah untuk memasukkan peristiwa Perang Tondano dalam sejarah Indonesia dan Tanah Minahasa.

“FGD ini juga merekomendasikan untuk pembuatan Film Pendek/Dokumenter dan Film Layar Lebar tentang PERANG TONDANO. Disamping pula menjadi bahan ajar muatan lokal bagi generasi muda, siswa ataupun mahasiswa di sejumlah pendidikan di tanah Minahasa,” ujar Sualang.

Memang, selama ini ternyata sangat keliru, jika tanah Minahasa tidak melahirkan peristiwa epik dalam melawan pendatang dan kaum penjajah.

Peristiwa tahun 1807-1809 berisi kisah peperangan tanah Minahasa melawan Belanda. Peperangan itu sendiri ternyata sangat dahsyat dan berakhir tragis bagi kota tua Tondano yang belakangan dibangun kembali dengan sistem Inggris.

Akan tetapi, Perang Tondano, begitu belakangan disebut beberapa penulis Minahasa, misal Bert Supit, Giroth Wuntu, Edy Mambu, Jessy Wenas, dll, sesungguhnya bukan saja sebuah peperangan etnis Tondano atau Toulour melawan Belanda. Tetapi, sesungguhnya malahan PERANG MINAHASA melawan Belanda di Tondano.

Memang benar, bahwa sayangnya di kalangan penulis sejarah Minahasa, peristiwa Perang Tondano ini ditulis dalam perspektif yang berbeda. Akan tetapi, tulisan Bert Supit dan Eddy Mambu, sesungguhnya merepresentasi Perang Tondano dengan dukungan data dan arsip yang sahih.

Kedua buku ini menunjuk secara jelas bukan hanya latarnya, tetapi dukungan
data yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Akan tetapi, catatan sejarah tersebut akan sangat disayangkan jika tidak merepsentasi satu kesadaran historis yang kemudian terwariskan secara tepat. Baik melalui kurikulum sekolah lokal, maupun pengetahuan sejarah Indonesia. Seakan benar bahwa Tanah Minahasa sejak awal sudah bersikap lunak kepada pihak Belanda karena alasan agama. Padahal, timeline dan kekhasan tersebut, memiliki latar yang tidak sederhana.

Oleh karena itu, maka PERANG TONDANO ini, layak dipromosikan menjadi latar kuat kisah dan kontribusi Tanah Minahasa dalam membangun jati dirinya. Dan, jika dalam konteks yang luas, ke-Indonesia-an, maka Perang Tondano inipun, layak menjadi bagian dari sebuah proses meletakkan Tanah Minahasa dalam posisi yang proporsional terhadap sikap dan juga konsistensinya terhadap penjajahan. (Ferry)

About Ferry Assa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*