http://mediamanado.com/wp-content/uploads/2014/05/iklan10a1.jpg

Gubernur Olly Lobi ke Presiden Jokowi, Wagub Kandouw: Sulut Siap Siap Jadi Tuan Rumah KTT G20

Gubernur Olly Dondokambey SE menemui Presiden Joko Widodo terkait rencana Sulut sebagai tuan rumah bila KTT G20 digelar di Indonesia

Gubernur Olly Dondokambey SE menemui Presiden Joko Widodo terkait rencana Sulut sebagai tuan rumah bila KTT G20 digelar di Indonesia

 

MANADO, MediaManado.com – Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey SE berhasil melobi Presiden RI Joko Widodo agar Provinsi Sulut bisa menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G2O pada tahun 2023 di Indonesia.

Gubernur Olly menyampaikan rencana kesediaan Sulut sebagai tuan rumah hajatan internasional pada Jokowi, di sela-sela kegiatan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Hotel Raffles Jakarta, Kamis (28/11/2019).

“Pak Gubernur Olly Dondokambey mengirimkan pesan lewat Whatsapp kepada saya, bahwa pak Gubernur telah melobi bapak Presiden Jokowi agar Sulut menjadi lokasi penyelenggaraan KTT G20,” ungkap Wakil Gubernur Sulut Drs Steven OE Kandouw di Kantor Gubernur, Jumat (29/11/2019) pagi.

Untuk itu, tambah Wagub Kandouw,  pemerintah daerah dan masyarakat Sulut patut berbangga bilamana KTT negara-negara G20 diselenggarakan di daerah ini.

“Pemerintah daerah dan masyarakat Sulut harus siap-siap untuk hajatan besar ini (G20). Segala sesuatu, harus disiapkan menjelang pelaksanaan KTT G20 di Sulut,” tandas Wagub Kandouw.

Memang belum lama ini, Gubernur Olly melaksanakan Rapat Koordinasi terkait kesiapan infrastruktur di daerah, terlebih infrastruktur yang akan digunakan pada KTT G20.

“Kita sedang lobi pemerintah pusat agar pertemuan itu diadakan di sini. Supaya Presiden Amerika dan para pemimpin dunia bisa datang ke Sulut,” kata Gubernur Olly di Rakor tersebut.

Rakor itu dipimpin Gubernur Olly dan melibatkan sejumlah instansi terkait di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), termasuk Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XV.

“Semua proyek infrastruktur di Sulut akan dikebut pengerjaannya, supaya bisa selesai sebelum dimulainya KTT G20,” ujar Gubernur Olly.

g 20

Proyek-proyek tersebut di antaranya pembangunan jalan dari Bandara Sam Ratulangi menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang, termasuk hotel dan tempat pertemuan representatif di kawasan itu.

“Mau dipercepat semua. Ini harus disiapkan tahun 2020, 2021, 2022 dan tahun 2023 tuntas,” ujar Gubernur.

Olly mengatakan, jika pertemuan di bidang ekonomi ini berhasil diselenggarakan di Sulut, maka semakin meningkatkan pertumbuhan pariwisata dan nilai investasi di Sulut.

“Sulut lebih dikenal di dunia, pariwisata meningkat, investasi tambah banyak,” kata Olly.

Negara-negara dengan perekonomian besar dunia seperti Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, lnggris, Cina, India, Indonesia, ltalia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Turki, dan Uni Eropa bergabung dalam organisasi ini.

Sedangkan pada saat menghadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Raffles Hotel, Jakarta, Kamis (28/11/2019), Presiden Jokowi menyebutkan tiga hal yang perlu dilakukan di tengah kondisi global yang penuh dengan ketidakpastian.

Selain harus mampu bertahan dari berbagai tekanan eksternal, menurut Presiden, cara berikutnya adalah dengan mencari sumber-sumber baru. Presiden mengaitkan hal tersebut dengan transformasi ekonomi yang tengah dikejar oleh pemerintah.

Selama ini Indonesia banyak mengekspor komoditas dalam bentuk bahan mentah, seperti nikel, timah, bauksit, hingga batu bara.

Padahal, apabila komoditas tersebut diolah sehingga menghasilkan produk turunan berupa barang jadi atau setengah jadi maka akan memiliki nilai tambah yang lebih besar.

“Sebagai contoh batu bara, kalau dioleh menjadi DME, menjadi polypropylene bisa mengganti impor kita atas LPG, bisa mengganti impor bahan-bahan baku untuk pakaian. Kenapa lama tidak kita lakukan? Ya karena kita senang impor. Siapa yang impor? Ya orang-orang yang senang impor, bapak ibu saya kira tahu semuanya. Ada yang senang impor dan tidak mau diganggu impornya, baik itu minyak baik itu LPG. Ini mau saya ganggu,” paparnya.

g 20 b

Demikian juga dengan produk lain seperti kelapa sawit yang bisa diolah menjadi biodiesel, dan nikel, mangan, serta cobalt yang produk turunannya bisa menjadi bahan untuk lithium baterai.

Lebih jauh, Presiden menyebut, pemerintah tengah mengatur strategi besar bisnis negara agar Indonesia bisa menjadi pemain besar penghasil produksi lithium baterai dunia.

“Karena ke depan yang namanya mobil listrik itu pasti akan besar-besaran diproduksi karena orang sudah tidak senang lagi menggunakan energi fosil,” imbuhnya.

Masih terkait dengan mencari sumber-sumber baru, Presiden Jokowi juga menyebutkan potensi hydro power yang dimiliki Indonesia. Indonesia memiliki sungai-sungai besar seperti Sungai Kayan di Kalimantan Utara yang memiliki potensi 11 ribu Megawatt dan Sungai Mambramo di Papua yang bisa menghasilkan 23 ribu Megawatt.

“Kalau yang namanya sungai Kayan dibendung, ada 10 titik di situ, dan dipakai untuk hydro power pembangkit listrik tenaga air, muncul biayanya hanya 2 sen. Kalau kita pakai batu bara bisa 6-7 sen. Siapa yang bisa melawan angka 2 sen ini? Semuanya akan berbondong-bondong ke sini. Saya sudah sampaikan ke Pak Gubernur, ini akan kita mulai. Karena dari sini lah kita memiliki competitiveness, memiliki daya saing,” paparnya.

Potensi lainnya adalah melalui pengembangan destinasi pariwisata baru. Pemerintah kini tengah berfokus mengerjakan 10 Bali baru, di mana 5 destinasi pertama yaitu Labuan Bajo, Mandalika, Borobudur, Danau Toba, dan Manado ditargetkan selesai pada 2020.

“Airport terminal dibesarkan, runway diperpanjang semuanya, jalan menuju tempat-tempat wisata dikerjakan semuanya. Saya cek terus. 5 selesai 2020, sisanya 3 tahun setelah itu rampungkan lagi. Artinya kita akan mendapatkan devisa dari sektor ini,” ucapnya.

Di samping itu, untuk bisa bertahan dalam situasi global yang tidak menentu adalah dengan tetap optimis.

Terkait hal ini, Presiden mengajak para pelaku usaha dan investor untuk tidak ragu-ragu jika hendak menanamkan investasinya.

Karena menurut Presiden, pemerintah kini tengah membangun iklim investasi yang lebih baik. Salah satu caranya yaitu dengan penyederhanaan regulasi dan birokrasi melalui pembuatan omnibus law dan pemangkasan eselon.

“Kalau di sini hadir para pengusaha, jangan sampai ada yang menyampaikan wait and see, enggak. Kalau mau investasi, investasi lah karena kita akan memperbaiki iklim investasi itu,” tandasnya. (Ferry/adv)

About Ferry Assa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*