http://mediamanado.com/wp-content/uploads/2014/05/iklan10a1.jpg
Breaking News

Liando : Peta Kekuatan di Pilkada Bisa Dianalisa Obyektif Setelah Calon Ditetapkan KPUD

DR FERRY DAUD LIANDO, Pengamat Politik Sulut, Akademisi Unsrat Manado

DR FERRY DAUD LIANDO, Dosen FISIP Unsrat Manado

 

MANADO, MediaManado.com – Peta kekuatan para calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut untuk Pilkada 9 Desember 2020, memang belum bisa terbaca secara obyektif saat ini.

Dosen FISIP Unsrat Manado, DR Ferry Daud Liando mengatakan hal itu kepada MediaManado.com, Senin (29/06/2020) malam.

Malahan menurut Liando, peta kekuatan Olly Dondokambey SE belum bisa terbaca jika untuk sekarang.

“Lawan Pak Olly belum ada. Untuk mengukur kekuatan Pak Olly, harus tahu dulu siapa lawan-lawannya. Hingga kini calon resmi kepala daerah belum ada,” kata Liando.

Ia beralasan, sesuai PKPU 5/2020, penetapan pasangan calon baru akan dilakukan KPUD pada tanggal 23 September 2020.

“Jika sudah jelas diketahui pasangan calon, maka akan mudah dipetakan kekuatan masing-masing pasangan termasuk Pak Olly,” ujarnya.

Iapun menambahkan bahwa sangat mudah mengkalkulasi atau mendeskripsikan kekuatan pasangan calon, apabila sudah diketahui; siapa berpasangan dengan siapa, siapa pasangan yang menjadi lawan incumbent dan berapa pasangan calon yang berkompetisi.

Siapa berpasangan dengan siapa, kata Liando, sangat mempengaruhi kekuatan elektoral. Misalnya calon yang berasal dari etnik Y berpasangan dengan calon yang berasal dari etnik Z.

“Penggabungan dua etnik atau penggabungan dua agama berbeda, atau dua dapil berbeda. Itu pernah dipraktekan Pak SHS (Sinyo Harry Sarundajang) ketika menggandeng Pak Djouhari Kansil. Itu juga pernah terjadi ketika Pak Vicky Lumentut yang merupakan warga GMIM menggandeng Pak Mor Bastiaan,” tuturnya.

Selain itu, kata Liando, Jokowi juga pernah mengajak Jusuf kalah agar terjadi perpaduan dua etnik. Kemudian siapa melawan siapa juga penting untuk diketahui. Jika lawannya populer tentu jadi ancaman. Jika baru tampil, maka dengan mudah untuk dikalahkan.

Kemudian jumlah pasangan juga bisa akan menentukan. Jika pasangan calon lebih dari 2 pasang, maka akan menguntungkan incumbent.

“Namun jika ternyata terjadi head to head maka posisi incumbent akan terancam,” tandasnya.

Ia mencontohkan pengalaman yang pernah terjadi yaitu ketika Pilkada Jakarta. “Ketika ada 3 calon di putaran pertama, dengan mudah Pak Ahok mengalahkan Pak Anis dan Pak Agus. Tapi ketika tinggal 2 calon di putaran kedua, Pak Ahok kalah,” imbuhnya.

“Jadi analisis yang paling objektif terkait peta kekuatan akan terjawab, ketika telah ada pasangan calon yang telah ditetapkan oleh KPUD,” katanya lagi.

Namun demikan pengalaman di banyak daerah, tambah Liando, untuk mematahkan kekuatan incumbent tidaklah ringan.

“Butuh kerja keras untuk menyaingi kekuatannya,” tutup Liando. (Ferry)

About Ferry Assa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*