http://mediamanado.com/wp-content/uploads/2014/05/iklan10a1.jpg

Narasumber Diskusi Panel, Ini Ajakan Kombes Pol Yandri untuk Masyarakat Sulut

KOMBES POL YANDRI IRSAN SH,SIK,MSI, Direktur Reskrimsus Polda Sulut.

KOMBES POL YANDRI IRSAN SH,SIK,MSI, Direktur Reskrimsus Polda Sulut.

 

MANADO, MediaManado.com – Direktur Reskrimsus Polda Sulut Kombes Pol Yandri Irsan, SH, SIK, MSi mengajak masyarakat khususnya mahasiswa dan pelajar di Sulut agar memerangi hoax dan ujaran kebencian.

Hal itu sampaikan Kombes Yandri Irsan saat menjadi salah satu narasamber pada Diskusi Panel yang digelar bersama BEM Unsrat dan Polda Sulut dengan tema ‘Merajut Kebersamaan dalam Kebhinekaan, Stop Hoax dan Ujaran Kebencian’ di lantai 4 Gedung Rektorat Unsrat Manado, Rabu (09/10/2019).

Yandri mengatakan, maraknya hoax tak lepas dari perkembangan teknologi saat ini. “Kemajuan teknologi harus kita hadapi bersama tinggal bagaimana kita bijak dalam mengantisiapsi atau meanjaga kemajuan tersebut,” ujarnya.

Indonesia kata Yandri adalah negara keempat terbesar di dunia dalam penggunaan media sosial khususnya facebook, namun tingkat kecepatan internet di Indonesia peringkat 106 di dunia.

Dalam kesempatan itu, dia juga memaparkan apa itu hoax dan tujuannya. “Tujuan hoax untuk mengajak publik mempercayai yang salah menjadi benar, penyebaran berita hoax, juga memiliki tujuan pribadi menciptakan kesan personel tertentu,” jelasnya.

Untuk mencegah itu, iapun mengajak masyarakat Sulut untuk terus meningkatkan minat baca, mencari kebenaran informasi atau berita yang digulirkan dan mencari berita pembanding.

“Kalau menemukan konten negatif atau hoax, tolong bantu memberikan komentar bahwa itu bohong, jangan dibiarkan. Meskipun singkat, berikan komentar bahwa itu tidak benar,” tandas Direskrimsus Polda Sulut ini.

Kombes Pol Yandri juga mengatakan jika regulasi tentang hoax dan ujaran kebencian itu sudah ada sejak tahun 1946, yang tertuang dalam Undang-Undang no 1 Tahun 1946

Saat ini pihaknya juga sudah menangani kasus hoax dan ujaran kebencian. “Ada 23 kasus pencemaran nama baik yang telah ditangani Polda Sulut,” katanya.

Dalam penanganan kasus ini, Polda Sulut lebih bijak. “Penegakkan hukum merupakan jalan terakhir, mediasi dan konseling itu yang dikedepankan. Kalu tidak bisa berdamai, kita lanjutkan ke ranah hukum,” tutup Yandri. (ferry/hmspolda)

About Ferry Assa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*