JAM SULUT HEBAT; Junjung Demokrasi, Wujud Rakyat Berdaulat

oleh

Loading

IMG-20220316-WA0052

 

MANADO, MediaManado.com – Isue ancaman mundurnya pelaksanaan Pemilu 2024, menjadi perhatian Ketua Jaringan Anak Milenial (JAM) SULUT HEBAT, Josua Liow.

Menurut Josua Liow, wacana mundurnya proses Pemilu yang digulirkan sekolompok orang, justru membawa preseden buruk pada cita-cita reformasi, dan seolah-olah bangsa ini tidak siap melahirkan pemimpin di masa yang akan datang melalui proses demokrasi.

“Hal ini pernah terjadi yang membuat Negara Republik Indonesia menjadi terpuruk. Dominasi politik sampai pada titik nadir melahirkan Pemerintahan Otoriter menjadikan tatanan pemerintahan anti Demokrasi, bahkan budaya politik masyarakat menjadi buruk,” kata Josua Liow di Manado, Rabu (16/03/2022).

Ia menambahkan bahwa akhir-akhir ini disinyalemen ada sekelompok orang, bahkan memakai beberapa oknum Parpol yang pernah dahulu membawa Indonesia skeptis pada demokrasi dan skeptis pada kekuasaan berada di tangan rakyat ini adalah pertanda buruk bagi alam demokrasi Indonesia.

“Bahkan ini adalah perlawanan terhadap cita-cita reformasi,” tandas Josua Liow.

Ia pun mengundang masyarakat luas, terlebih kaum milenial Sulut untuk mengikuti Seminar FIGUR BIDIK Pemimpin Bangsa 2024, yang digelar JAM SULUT HEBAT pada Sabtu, 19 Maret 2022 bertempat di Ruang Mapalus Kantor Gubernur Sulut.

Seminar ini akan diisi para pembicara berkompoten yang terdiri atas Karyono Wibowo (Pengamat Politik/Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute), Ferry Daud Liando (Wasekjen PP AIPI), dengan moderator M. Taufik Poli, dan sebagai Opening Speech Josua Liow (Ketua JAM SULUT HEBAT).

Dari Seminar ini diharapkan Milenial Sulawesi Utara akan mengerti proses Demokrasi Indonesia, dalam tantangan memilih Figur Pemimpin Bangsa 2024.

Sementara itu, Delbert Mongan, SH MH, Dosen UNIMA mendukung Seminar ini.

“Saya apresiasi kepada JAM SULUT HEBAT atas inisiasi kegiatan ini. Generesi Milenial Sulawesi Utara jangan melek terhadap politik dan jangan tabuh bicara demokrasi, karena sejarah kelam mencatat Bangsa Indonesia terpuruk akibat dominasi kekuasaan terlalu lama dipegang oleh seseorang, bahkan seolah-olah tidak ada orang lain yang bisa memimpin bangsa ini. Ini sangat berbahaya, tapi jauh lebih berbahaya, apabila masyarakat didorong-dorong anti demokrasi,” ungkap Mongan.

Mongan pun merasa bangga karena JAM SULUT HEBAT mengerti dan memahami langkah kegiatan ini, yang menunjukkan identitas rakyat Sulawesi Utara bahwa rakyat  Sulut pro demokrasi dan budaya politik Mapalus, cermin bahwa siapapun Pemimpin wajib menjadi pelayan dan rela berkorban bagi sesama.

Ia pun menjelaskan bahwa karakter politik masyarakat Sulawesi Utara selalu menunjukkan tiga hal, yaitu Bebas, Berdaulat dan Bertanggung Jawab.

“Inilah cermin rakyat SULUT adalah RAKYAT MERDEKA!,” tutup Mongan. (*/ferry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *