
ZHEJIANG – MediaManado.com – Seorang profesor ekonomi Universitas Zhejiang mengeluarkan ide yang cukup kontroversial. Dia menyarankan pria berpenghasilan rendah untuk berbagi istri. Saran ini dikeluarkan untuk mengatasi masalah kesenjangan jumlah laki-laki dan perempuan di China.
China mengalami kesenjangan jumlah laki-laki dan perempuan yang cukup tinggi. Statistik mencatat 118 laki-laki lahir dari rahim 100 perempuan. Kesenjangan ini timbul akibat kebijakan satu anak satu keluarga dan sebagian besar keluarga di China lebih senang memiliki anak laki-laki.
Meningkatnya kesejahteraan dan urbanisasi menyebabkan banyak perempuan lebih senang meninggalkan desa atau daerah miskin untuk bekerja di kota-kota besar. Dengan kesenjangan yang terjadi, wajar perempuan di China akan lebih selektif dalam memilih pasangan hidup. Kebanyakan dari perempuan tersebut tentu lebih memilih laki-laki berpenghasilan tinggi.
“Seorang laki-laki berpenghasilan tinggi akan mudah mencari perempuan sebagai jodohnya. Bagaimana dengan mereka yang berpenghasilan rendah? Mereka harus berbagi istri,” ujar Xie Zuoshi, seperti dilaporkan BBC, Rabu (28/10/2015).
“Di beberapa daerah miskin dan terpencil, banyak terdapat kakak-adik yang saling berbagi istri. Mereka terbukti dapat hidup harmonis bersama,” lanjut profesor ekonomi tersebut.
Ide Xie Zuoshi tersebut dituangkan dalam sebuah esai yang diterbitkan oleh media-media setempat. Xie pun akhirnya mendapat sorotan tajam dan dituduh tidak bermoral oleh netizen di China. Seorang pengguna sosial media Weibo dengan lantang menyebut apabila kebijakan tersebut disahkan, tidak akan ada bedanya manusia dengan binatang.
“Solusi tersebut terlalu berpegang pada sudut pandang laki-laki. Sangat konyol tentu saja. Ini semakin menegaskan budaya yang terlalu mengagungkan superioritas laki-laki terhadap perempuan,” ujar Jing Xiong.
“Ide Profesor Xie mengabaikan hak-hak perempuan. Dia hanya memandang perempuan sebagai budak seks dan hanya berfungsi untuk melahirkan anak. Ini adalah contoh diskriminasi terhadap perempuan,” lanjut perempuan yang bekerja sebagai aktivis hak-hak perempuan itu.
Profesor Xie akhirnya tidak tahan dengan tuduhan tidak bermoral. Dia tetap berpegang pada idenya.
“Andai kita berbicara moral, maka akan ada sekira 30 juta laki-laki pada 2020 yang tak punya istri. Mereka tak akan punya harapan hidup,” bantahnya.
Xie lalu mengingatkan bahwa bisa saja para laki-laki bujangan tersebut akan melakukan tindak kriminal seperti perkosaan dan pembunuhan bahkan tindak terorisme. Dia tetap berpegang pada idenya sambil bertanya secara retoris apakah berpegang teguh pada moral dapat mengurangi kemungkinan meningkatnya tindak kriminal.
EDITOR : INYO. R.





