Sebarkan Rasa Takut, Teroris Gunakan Sarana Media

oleh
Je

Loading

Je
James Tulangouw SE, Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris (BNPT) Provinsi Sulut

 

MANADO, Kawanuapost.com – Guna mencapai tujuan, para teroris seringkali menggunakan sarana media sebagai senjata ampuh menebarkan rasa takut dan khawatir di tengah masyarakat. Terlebih media sosial, yang begitu dinilai sangat dekat dan akrab dengan masyarakat dari berbagai golongan umur dan latar belakang serta strata yang ada, yang nota bene selaku pengguna aktif sehari hari, termasuk para radikalis yang menggunakan sarana media demi mencapai tujuannya.

Demikian terungkap dalam Kegiatan Literasi Media sebagai upaya cegah dan tangkal radikalisme dan terorisme di masyarakat yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulut di Hotel Ibis Manado, Kamis (8/6/2017).

Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Provinsi Sulut James Tulangouw SE menegaskan, sarana media sosial menjadi sarana paling ampuh yang digunakan para teroris maupun kaum radikal untuk memberi rasa tidak nyaman bagi masyarakat luas dengan menayangkan gambar-gambar berbau sadisme ataupun korban penembakan, korban bom maupun korban kemanusiaan.

“Teroris sangat pintar sekarang ini menjadikan sarana media untuk menyebar ketakutan,” tandas Ketua FKPT Tulangouw, sembari mengajak media massa, elektronik untuk hati-hati memberitakan segala aksi terorisme.

Untuk itu, dia berharap, kegiatan literasi media, menjadi tambahan nilai bagi para peserta untuk dapat mengambil bagian nantinya di tengah masyarakat dalam menangkal paham radikal dan teroris, bahkan media diharapkan menjadi filter terhadap berbagai informasi yang bersifat hoax di medsos.

Jimmy Silalahi, Ketua Komisi Hukum Dewan Pers RI
Jimmy Silalahi, Ketua Komisi Hukum Dewan Pers RI

 

Sementara, anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi, menyatakan, pers atau media massa jangan menjadi senjata teroris, dalam menebarkan rasa takut pada masyarakat.

“Dengan menayangkan para korban di media, maka dengan sendirinya tujuan mereka tercapai untuk menebar rasa takut, malahan tidak sadar, kita media telah membantunya. Nah, hal ini jangan sampai terjadi,” ujar Silalahi selaku Ketua Komisi Hukum Dewan Pers ini.

Malahan, tambah Silalahi, teroris dengan sengaja menayangkan gambar dengan ujaran ujaran bernada kebencian, bahkan tidak menutup kemungkinan menyebarluaskan informasi hoax, yang berakibat memeca belah persatuan di masyarakat.

“Sebaiknya, jikalau ada informasi yang meragukan kebenarannya, sebaiknya dicek dan ricek lagi, sehingga media atau masyarakat tidak terjebak pada informasi yang sesat,” tandas Silalahi.

Willy Pramudya dari BNPT didampingi Ketua FKPT Sulut James
Willy Pramudya dari BNPT didampingi Ketua FKPT Sulut James Tulangouw SE

 

Sementara Willy Pramudya dari BNPT menilai informasi yang disebar di medsos justru ada yang berasal dari media konfensial, lalu ada  informasi yang dibuat orang tertentu dan masyarakat tidak bsia menfilter informasi tersebut, dan informasi yang dibuat orang itu sendiri.

“Untuk itu diperlukan kekuatan media sosial dan jurnalisme warga guna membangun komunitas basis dalam melawan hoax dan menangkal radikalisme dan terorisme,” tandas Willy Pramudya, yang pada sesi terakhir bersama  Azka membentuk komunitas anti hoax yang terdiri atas para peserta kegiatan ini.  (fa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *