Vietnam Sambut Baik Tawaran SBY untuk Jembatani Komunikasi dengan RRT

oleh

Loading

22880

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menawarkan bantuan kepada Vietnam untuk menjembatani komunikasi dengan pihak Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Tawaran tersebut terkait dengan penyelesaian ‘insiden dorong-mendorong’ di ladang pengeboran minyak dan gas di Laut Cina Selatan yang mengakibatkan cederanya pihak Vietnam.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyampaikan hal ini dalam keterangan pers di Myanmar International Convention Center, Nay Pyi Taw, Minggu (11/5) sore, seusai mendampingi Presiden SBY melakukan pertemuan bilateral dengan PM Vietnam Nguyen Tan Dung.

“Vietnam menyambut baik tawaran Bapak Presiden itu. Jadi tadi melalui pertemuan, Menlu Indonesia diinstruksikan untuk segera mungkin menghubungi Menlu Tiongkok untuk menyampaikan keprihatinan dan harapan agar masalah ini bisa dikelola dengan baik dan tidak dibiarkan berkembang menjadi krisis yang lebih besar,” kata Menteri Marty.

Dalam pertemuan bilatera ltadi, ujar Marty, PM Nguyen Ran Dung menjelaskan bahwa saat ini terdapat hampir 83 kapal RRT mengawasi kegiatan pengeboran gas dan minyak di Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) dan landasan kontinen Vietnam. Bahkan, menurut pihak Vietnam, sempat terjadi insiden dorong-mendorong dan penggunaanwater cannon yang menyebabkan cidera di pihak Vietnam.

“Vietnam menyampaikan ini sesuatu yang sangat memprihatinkan,” ujar Marty. “Mereka telah mencoba untuk menahan diri, berkomunikasi dengan pihak Tiongkok.”

Vietnam sudah menawarkan diri untuk ke Beijing membahas masalah ini dengan PM Tiongkok. Namun, pihak RRT merasa i waktunya belum tepat untuk mengadakan komunikasi seperti ini.

Mendengar informasi tersebut, Presiden SBY menegaskan kembali pandangan Indonesia yang prihatin terhadap situasi yang sedang berkembang ini. Ketegangan di Laut Cina Selatan sama sekali tidak bisa diselesaikan melalui penggunaan kekuatan dan kekerasan. “Justru sebaliknya memerlukan penyelesaian secara damai sesuai prinsip-prinsip dalam COC (Code of Conduct) dan 10 poin dari ASEAN,” Marty menjelaskan.

Dalam sesi retreat KTT ke-24 ASEAN, Presiden SBY juga menggarisbawahi bahwa sebenarnya bangkitnya RRT merupakan suatu peluang bagi ASEAN, bukan sesuatu yang harus dilihat sebagai tantangan. “Yang penting, bagaimana bisa mengelola hubungan yang saling membawa manfaat,” Marty menandaskan. (fbw/yun)