MINAHASA, MediaManado.com – Festival Wanua Warembungan yang dilaksanakan di Warembungan di bukan dengan kegiatan Napak Tilas menjejal jalan leluhur.
Napak Tilas dibuka dengan Upacara “Mengaley” meminta pertolongan tuntunan dari yang Maha Kuasa yang dilaksanakan di rumah Tetuah Adat Warembungan, Rinto Taroreh, di “Wale Pahemungan Ne Waraney”, Warembungan, Kamis (07/03) pagi. Terhimpun di dalamnya dari berbagai komunitas seni dan budaya di Tanah Minahasa.
Sekitar pukul 08.00 pagi, menuju ke lokasi Wanua Ure Lotta, dan melakukan upacara adat Mahelur, setelah melakukan upacara adat Mahelur, rombongan yang dipimpin langsung oleh Tonaas Rinto Taroreh, menuju ke Perkebunan Tawaang, yang di dalamnya juga ada situs batu Opo Warere sebagai penanda perjalanan leluhur Minahasa.
Setelah dari perkebunan Tawaang, rombongan menuju ke Rano Oki, yang menandakan situs perjalanan sebagai tempat persinggahan dan sebagai sumber air minum dari para leluhur Minahasa. dari Rano Oki rombongan terus berjalan hingga mendaki ke punggung gunung, dan berjalan terus di ratanya punggung gunung yang disebut kawasan Pinopoan, yang memiliki arti rata.
Kemudian rombongan menuju ke pancuran Sasarongsongan, yang juga salah satu situs sumber air tanda perjalanan leluhur Warembungan. Setelah istirahat sejenak rombongan berjalan mengikuti kawasan Lewet dan mendaki ke Patalingaan, yang artinya ‘tampa ja ba dengar akang’, kemudian ke situs Lalalesan, kemudian turun menuju ke Watu Tumani yang berada di tengah kampung Warembungan, yang dikawal dengan tarian Kawasaran sampai ke Watu Tumani, di lokasi, rombongan melakukan upacara adat Mahelur. Yang juga pertanda selesainya rangkaian napak tilas tersebut, pada sore hari tersebut.
Terkait kegiatan ini Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Samratulangi Manado, Fredy Wowor mengungkapkan dengan napak tilas ini kita dapat berefleksi bagaimana para leluhur Warembungan membangun kampung ini, yaitu, untuk kelanjutan dan kebahagiaan hidup sampai selama-lamanya.
“Dengan menulusuri jejak leluhur, torang mengalami kembali pengalaman bagaimana para leluhur Warembungan membangun kampung ini, yaitu, untuk kelanjutan dan kebahagiaan hidup sampai selama-lamanya, berkat yang melimpah dalam pencarian hidup dan kelanjutan kehidupan sebagai manusia. Menjadi manusia yang menyatu dengan semesta,” kata Wowor.
Bagi Tetuah Adat Minahasa, Rinto Taroreh, mengatakan bahwa kita pergi dan melihat langsung, dan menjejaki ulang jejak leluhur, dengan ini kita membangkitkan kembali nilai-nilai luhur yang ditinggalkan.
“Napak tilas ini harus ada karena terkait dari sejarah lahirnya negeri Warembungan, jadi dengan torang napak tilas, torang mengingat, kita pergi dan melihat langsung, dan menjejaki ulang jejak leluhur, dengan ini kita membangkitkan kembali nilai-nilai luhur yang ditinggalkan, seperti maleos-leosan, masawang-sawangan, dan dengan ini penanda hubungan antara kita saat ini dan leluhur kita, dengan kegiatan ini akan membangun hubungan kita semakin kuat dengan orang tua kita dan terutama leluhur,” kata Taroreh.
Disamping itu, Ketua panitia Festival Wanua, Amri Kalangi berharap dengan napak tilas yang berjalan lancar dapat menjadi rangkaian kesuksesan Festival Wanua.
“Kegiatan Napak Tilas ini adalah rangkaian dari Festival Wanua ini, dan kesan saya ini kegiatan ini sangat baik, terutama dalam kebersamaan, itu sangat positif, dan semoga leluhur menyertai kita sampai kegiatan selesai,” ujar Kalangi. (Terry Lumentut)











