Briptu Pingkan Pardede: Selesaikan dengan Kepala Dingin

oleh

Loading

Aksi kekerasan antar kampung atau tawuran antar kampung belakangan ini semakin marak terjadi. Warga dengan mudah saling melukai hingga membunuh sesamanya hanya karena alasan sepele. Seolah tidak ada lagi budaya saling memaafkan karena setiap konfilk diselasaikan dengan kekerasan. Belakangan budaya kekerasan menjadi budaya baru bangsa ini. Penyelesaian secara musyawarah mufakat tak adalah lagi. Hukum seolah tidak berlaku lagi.

Hal ini mengundang keprihatinan gadis cantik benama lengkap Pingkan Pardede. Katanya, permasalahan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mufakat selalu diakhiri dengan kekerasan. Tanpa memihak kepada siapapun dia mencontohkan kasus beberapa desa di Bolaang Mongondow (Bolmong) yang berujung pada korban jiwa. “Kalau sudah ada yang meninggal pasti dendam akan terus berlanjut,” sesal gadis yang akrab disapa Pingkan, Kamis (15/11).

Dara kelahiran Passi 8 November 1989 ini menuturkan akibat tawuran atau perkelahian warga tersebut pasti dirugikan merugikan semua pihak. Kerugian harta benda hingga nyawa tak akan terhindarkan. Dendam akan membutakan nurani semua orang jika tidak mampu dikendalikan. “Jika semua pihak bisa menahan diri dan menyelesaikan setiap masalah dengan kepala dingin adalah suatu langkah terhormat,” kata penyuka warna merah muda ini.

Putri Pasangan Frangky Pardede dan Sumarni Potabuga ini mengatakan dalam pengamatannya banyaknya kejadian tawuran karena akibat permasalahan anak muda. Selain disebabkan akibat minuman keras (Miras), juga karena anak mudah yang sedang mencari jadi diri. “Mereka ingin menunjukan lebih hebat dan punya power. Mungkin juga dihadapan para gadis supaya terlihat hebat. Padahal sebagai anak gadis saya tidak menyukai itu,” kata gadis yang mengaku lajang ini.

Banyaknya kerugian yang disebabkan oleh tawuran antar kampung membuat Pingkan turut berempati, sehingga dirinya menghimbau warga untuk segera menahan diri dan menyerahkan semua pelanggaran pidana ke polisi.

“Percayakan kepada aparat kepolisian untuk menangani ini. Tidak akan ada untungnya tawuran terus malah semua dirugikan. Mungkin hari pihak lawan yang kalah atau menjadi korban tetapi bisa saja ke depan kita atau orang terdekat kita yang menjadi korban,” imbau gadis yang sehari- hari berprofesi sebagai polisi wanita berpangkat Brigadir Satu (Bripda) ini.