Pemdes Mapanget Salurkan Bantuan Pangan Pemkab Minut untuk 236 Keluarga

oleh

Loading

MINUT, Mediamanado – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melalui Pemerintah Desa (Pemdes) Mapanget, Kecamatan Talawaan merealisasikan bantuan beras untuk 236 keluarga.

Penyaluran bantuan ini diserahkan langsung Hukum Tua (Kumtua) Mapanget Gerald Kalesaran, Kamis (15/06/23) siang di kantor Kumtua.

Dikatakan Kumtua Gerald, bahwa pemberian bantuan ini merupakan program Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Bupati Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin William Lotulung dalam menjaga ketahanan pangan. Apalagi, Minut merupakan Kabupaten dengan ketahanan pangan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara.

 

“Sasaran kami selaku pemerintah Desa, dipilih keluarga penerima manfaat yang layak untuk menerima bantuan ketahanan pangan. Khusus untuk Desa Mapanget, terdapat 236 keluarga selain keluarga penerima manfaat bantuan langsung tunai (BLT) dana desa (Dandes),” jelas Kumtua.

Kumtua mengatakan, bahwa atas perhatian Pemkab Minut ini, masyarakat mengaku bangga dan senang. Untuk itu, pihaknya mewakili masyarakat Desa Mapanget menyampaikan terima kasih kepada Bupati Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin William Lotulung.

Diketahui, Bapanas mengukur indeks ketahanan pangan di kabupaten-kabupaten Indonesia berdasarkan sembilan indikator utama, Dengan metode tersebut, Kabupaten Minahasa Utara meraih skor 83,69 pada 2021, paling tinggi di antara kabupaten-kabupaten tetangganya.

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (BAPANAS), dari 11 Kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Minahasa Utara memiliki ketahanan pangan tertinggi. Kabupaten Minahasa Utara meraih skor tinggi karena beberapa faktor, salah satunya distribusi air bersih yang tergolong sangat baik. Mengacu pada UU No. 18 Tahun 2012, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau, serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. (**)

Penulis: Sweidy Pongoh