PMKRI Gorontalo Selenggarakan Dialog Moderasi Beragama

oleh

Loading

IMG-20210321-WA0111

 

GORONTALO, MediaManado.com – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kota Jajakan Gorontalo menyelenggarakan Dialog Moderasi Beragama untuk Menangkal Radikalisme dan Menumbuhkembangkan Toleransi Beragama, Sabtu (20/03/2021).

Kakanwil Kemenag Provinsi Gorontalo H. Syafrudin Baderung, Samsi Pomalingo (PW NU Provinsi Gorontalo) dan Alim Niode (budayawan) tampil sebagai narasumber pada kegiatan yang digelar secara zoom meeting yang dipandu Kartika F. Budiman tersebut.

Sejumlah pengurus ormas kemahasiswaan berbasis keagamaan seperti GMKI, HMI, PMII, IMM, KMHDI serta pengurus dan anggota PMKRI Gorontalo mengikuti kegiatan yang dibuka pelaksanaannya oleh Baderung tersebut.

Ketua Tim Kerja Dialog Refaldi Melo menjelaskan, tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk menumbuhkembangkan rasa toleransi terhadap keberagaman beragama, mendukung program Pemerintah dalam pencegahan paham radikalisme, dan menjalin silaturahmi antarorganisasi kemahasiswaan melalui konsep pluralisme.

Koordinator PMKRI Kota Jajakan Gorontalo Stevan Lintang berharap, melalui kegiatan yang dilaksanakan ini akan terbangun kesadaran dan komitmen yang kuat dari para peserta (ormas berbasis keagamaan dan kebangsaan) untuk proaktif menumbuhkembangkan pemahaman dan praktek keagamaan yang moderat dan toleran dalam rangka terwujudnya integrasi bangsa di tengah kemajemukan sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Dalam sambutan sekaligus pemaparan materinya, Baderung menegaskan moderasi beragama menjadi jargon nasional dalam penguatan cinta kebangsaan terhadap NKRI, dan termasuk dalam salah satu RPJMD oleh Pemerintahan Jokowi.

Kemenag, sebutnya, selalu berupaya mensosialisasikan dan memberikan pemahaman kepada seluruh sendi umat beragama tentang pentingnya moderasi beragama. “Tidak ada agama yang disebarkan di nusantara ini dengan menggunakan kekerasan. Islam dalam sejarahnya disebarkan oleh ulama dan pedagang, sedangkan kristen disebarkan oleh misionaris kaum Eropa,” ujarnya.

Ditegaskan, semua agama moderat, karena semua agama cinta damai. Yang tidak moderat adalah pola pikir yang sempit.

Pembimaskat Kemenag Provinsi Gorontalo Reinne Koraag menjelaskan, moderasi beragama bisa dimulai dengan membuka diri terhadap agama-agama lain.

Kami yang beragama Katolik, sebutnya, secara jumlah kecil, tetapi kami tidak minoritas, karena keberadaan kita di Gorontalo sangat dihargai dan tidak dibeda-bedakan oleh masyarakat Gorontalo. “Ini bukti bahwa moderasi beragama di Gorontalo sudah ada,” ujarnya.

Ditambahkan, kita punya satu keinginan, dengan kemajemukan Indonesia kita bisa bergandengan tangan dalam memajukan negeri ini. Kita tidak bisa berdialog dalam tataran doktrin, tetapi kita bisa berdialog dalam tataran universal yang bisa mempersatukan kita.

Depertim (Dewan Pertimbangan) PMKRI Kota Jajakan Gorontalo Talulembang Sule berharap, apa yang disampaikan para narasumber dapat diimplementasikan di organisasi dan kehidupan kita masing-masing.

“Upaya kita bersama menangkal radikalisme dan mengembangkan toleransi,” ujar mantan Ketua PMKRI Cabang Manado itu. (*)