Refleksi Iman : Yesaya 12:1-6; ‘Engkau menghibur aku’

oleh

Loading

received_1503377009844159

Oleh: Pdt Lucky Rumopa

 (Batusaiki Juni 2020)

 

Tiba-tiba kage lia foto teman lama di face-bookberubah rautnya kelihatan ganteng dan bersih, umur seperti gaya 30-an, padahal saya kenal ni orang pe umur so 50-an deng muka popolulu, idong gora, telinga agak lebar dan pongo-pongo ada “kalat” bercak hitam. Kemudian efek sosial-distancing hampir setiap melihat facebook muncul video-clip, ada teman yang bisa menyanyi suaranya berubah seperti “celine-dion” padahal kita tau depe suara “fals”.

Kita baru sadari kalau dunia sedang berada pada fenomena rekayasa digital yang “menghibur” kita dengan teknik AI (Artifical-Intelligence). Dari modifikasi “video rewrite” dan trek audio yang berbeda yang dikembangkan pada tahun1997, hingga program “face to face” yang dapat me-rekayasa foto dan video dengan “kecerdasan buatan”dikenal “Deep-fake” thn 2016.

Kemudian hadir aplikasi mobile yang menjadi “trend-topic” yaitu “face-app” sebuah aplikasi yang ditemukan oleh Yaroslav-Goncharov yang dimulai saat dia hendak “menghibur” temannya agar tidak muram fotonya dibuat “senyum” yang akhirnya februari 2020 tercatat pengguna aktif aplikasi capai 2 juta. Wajah, suara dan tampilan bisa di rekayasa selain memberi rasa “hiburan” tapi saat kita berkaca dan melihat realitas kita ternyata hanya memberi “rasa sesaat”saja.

Tapi apapun alasan kita, temuan rekayasa digital dengan teknik AI, hanya bersifat “temporer” sekalipun itu hanya bentuk “hiburan”.

Dalam Kitab Yesaya 12:1-6 sudah diingatkan dengan “nyanyian syukur” yang kuat dan tidak bersifat “sementara”.

Pujian nyanyian Yesaya ini syairnya sama dan seperti mengulang kisah umat Israel keluar dari tanah Mesir (Band. Kel 15:22-24) dari tekanan perbudakan. saat mereka berada di tepi laut “kolsom” umat berseruh sebagai tanda kemenangan dan keselamatan.

Tapi sorakan nyanyian secara kolosal umat bertahan 3 hari setelah itu umat kembali dengan “sungut-sungut” dan keraskan hati kepada Tuhan Allah. Itu sebabnya Yesaya mengingatkan agar Umat Tuhan tidak jatuh lagi seperti perilaku nenek moyang dimasa lampau.

“…Tetapi murkaMu telah surut dan Engkau Menghibur aku”.(ay 1b). Bila kita melihat kata-kata ini adalah janji Tuhan pada pasal 10:24-25.

Oleh karena ada pertobatan dan umat bersandar lagi pada pengharapan Tuhan (band 10:20). Lalu nyanyian syukur umat di nyatakan “Aku mau bersyukur kepadaMu ya Tuhan, karena sungguhpun Engkau telah murka terhadap aku” . kenapa Tuhan murka? (Yehuda dipimpinan penguasa yang jahat dimata Tuhan, 2 Raja 16).

Yesaya menyadari bahwa ancaman yang terjadi bukan dari Asyur tapi dosa bangsa Yehuda sendiri. Mereka membawa upeti dan takluk pada Asyur dan diwarnai dengan berbagai usaha bangsa Yehuda “menimbah” keselamatan dari bangsa bangsa sekitarnya (Lih Yesaya 7-8), tetapi mereka mengalami kehampaan dan ketidak pastian, dan tidak terlepas dari penderitaan.

Dan akhirnya mereka menemukan melalui nyanyian syukur, kesadaran akan murka Allah mereka temukan Tuhan “ ..akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan”(ay 3) Kesaksian ini adalah respons terhadap janji akan Raja Damai yang akan datang (psl 11:1-16).

Nyanyian umat yang menderita tetapi diselamatkan, dibebaskan oleh Tuhan. Hal itu seperti sesuatu yang kering dan haus bagaikan berada di padang gurun akibat dosa dosa nya, lalu “mata air keselamatan” dicurahkan menjadi kegirangan, sukacita dan syukur yang tidak dibatasi dalam keadaan apapun. Termasuk penderitaan.

Oleh sebab itu nafas hidup kekristenan adalah “bersyukur dalam segala hal” (1 Tes 5:18) yakni dalam susah dan senang, dalam tekanan dan bebas, walau sehat maupun sakit. Itu adalah “mata air keselamatan”artinya “penghiburan” tidak bersifat temporer atau sementara. Karena kehidupan yang sementara bukan akhir dari kehidupan.

Raja damai yang di janjikan pada pasal 11 bukan membangun kekuatan yang bersifat sesaat, melainkan membangun kerajaan Allah yang “kekal” dimana nyanyian-nyanian sorgawi menjadi kekuatan kekal jiwa. “segala suku bangsa dan bahasa berkumpul untuk memuji dan memuliakan Tuhan”(Wahyu 19:6; band ayat 4).

Nyanyian syukur keselamatan adalah ibarat “..burung rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak merasa lelah” (Yes 40:31). Artinya serkalipun kita termakan dengan waktu, usia keadaan fisik mengeriput, tekanan dan penderitaan termasuk serangan wabah covid-19. Kita didesain dengan “mata-air keselamatan” yaitu Firman Allah. Yang lebih kuat dari digital-rekayasa berbagai aplikasi sebab semua itu hanya keinginan sementara.

Anda ingin gunakan aplikasi Tuhan? Panggilah nama Tuhan dengan rasa “hormat” (ay 4) berilah kesaksian agar bangsa-bangsa (dunia) mengenal perbuatan Tuhan (ay 5), bermasmurlah dan berseruhlah melalui perbuatan-perbuatan kita (ay 6).

Dengan demikian penderitaan dunia melalui covid-19 tidak membuat kita jatuh dalam pengharapan iman. Sebab covid-19 bukan ancaman terhadap kematian, tetapi tanpa covid-19 kematian juga adalah bagian yang harus kita alami. Sehingga sehebat dan sekuat dampak “deep-fake” dan “faceApp” tidak dapat merekayasa hal “menghibur” atau rasa beryukur jadi paten. “murka-Mu telah surut, dan Engkau menghibur aku”

(catatan: IMR menghasilkan ratusan juta yang memakainya, mesin itu bisa mendeteksi sel-sel kanker sebelum menjadi gumpalan tumor. Tapi MRI sekarang bisa membuat otak 3 dimensi: disebut neoromodel. Perubahan secara revolusioner didepan kita pikiran dan susunan saraf bisa di modifikasi. Tantangan kedepan antara sains dan iman. Lebih kuat dampaknya dari covid-19). (***)