TOMOHON, MediaManado.com – Pelestarian Seni dan Budaya Daerah sejatinya merupakan tanggungjawab setiap generasi, karena kebudayaan itu sendiri diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan tidak meninggalkan nilai-nilai seni, adat dan budaya itu sendiri, yang secara intuisi meresapkan dan memberi penguatan pada kearifan lokal (Local Wisdom) masyarakat hingga saat ini.
Ada banyak komunitas masyarakat budaya yang terus menerus tetap melestarikan seni dan budaya lokal, termasuk di dalamnya Komunitas Seni, Adat dan Budaya ‘MAHSAMBUREYREY’ TOU_WULU-MINAHASA.
Komunitas ini sudah ada sejak tahun 1971 yang didirikan oleh Yakobus Lolong di Desa Wailan, sebuah desa yang berada di kaki Gunung Lokon, Tomohon.

Yakobus Lolong terdorong membentuk komunitas kecil yang berlatar budaya guna mengangkat dan melestarikan Seni, Adat dan Budaya Minahasa dalam masyarakat anak suku Tombulu.
Beragam kegiatan budaya di daerah, tidak pernah lepas dari keikutsertaan Komunitas MAHSAMBUREYREY ini sejak dia lahir dan dirawat para pengurus dan anggotanya tahun 1971 hingga turun temurun dari generasi satu ke generasi saat ini (2019).
Di usianya yang hampir setengah abad (48 tahun), Komunitas Seni, Adat dan Budaya MAHSAMBUREYREY TOU_WULU-MINAHASA, masih tetap merawat dan melestarikan Seni, Adat dan Budaya warisan para leluhur Tanah Minahasa.
Kini, Komunitas Seni, Adat dan Budaya MAHSAMBUREYREY TOU_WULU-MINAHASA dipimpin generasi kedua oleh putra Yakobus Lolong yang bernama Tenny A. Lolong atau yang lebih dikenal di masyarakat budaya sebagai LENG LOLONG.
“Kami akan terus berkarya untuk tetap melestarikan nilai-nilai seni, adat dan budaya leluhur Minahasa. Ini sudah menjadi tanggungjawab yang harus dijalankan sebagai generasi penerus budaya daerah kami, Minahasa,” ungkap Leng kepada MediaManado.com, Selasa (30/07/2019) sore.
Leng menambahkan bahwa sejak berdiri pada 1971, Komunitas ini nanti berbadan hukum dan diakui sebagai organisasi pada tanggal 03 Agustus 2017.

Kata MAHSAMBUREYREY sendiri memiliki arti MAH: Melakukan dan SAMBUREYREY: Menggelar/Meletakkan sesuatu secara teratur hasil karya masing-masing.
Sehingga MAHSAMBUREYREY bisa diartikan menampilkan hasil karya masing-masing orang atau kelompok orang Minahasa baik hasil pertanian, perburuan dan lain sebagainya.
“Yang dulunya merupakan ritual syukur dari para Leluhur Minahasa, dan itu menjadi induk daripada Pengucapan Syukur sekarang,” terang Leng Lolong. (Bersambung, Ferry)






