
MANADO, MediaManado.com – Komandan Lantamal VIII Laksamana Pertama TNI Suselo memimpin upacara Bendera Tujuh belasan di Lapangan Apel Mako Lantamal VIII. Hadir dalam kegiatan tersebut, Wadan Lantamal VIII Kolonel Marinir Eddy Setiawan, para Asisten Danlantamal VIII, Kadis/Kasatker, Perwira, Bintara, Tamtama dan ASN Lantamal VIII, Jumat (17/2).
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P., dalam amanatnya yang dibacakan oleh Komandan Lantamal VIII menyampaikan, Perkembangan lingkungan strategis di lingkup Nasional sangat dinamis dan memiliki kerawanan, khususnya situasi politik, seperti yang kita ketahui bersama bahwa pada tanggal 15 Februari lalu telah dilaksanakan pilkada serentak di beberapa daerah di Indonesia.
Meskipun telah terlaksana dengan lancar, pasca Pilkada justru merupakan masa kritis karena ada potensi konflik horizontal saat hasil perolehan suara diumumkan kepada publik khususnya pada daerah yang dinamika politiknya tinggi seperti Jakarta. Untuk itu, Netralitas TNI dan kewaspadaan menghadapi situasi yang berkembang harus tetap dijaga.
Pada konteks pertahanan dan keamanan Nasional, kita masih akan menghadapi kompleksitas tugas yang semakin tinggi. Jenis dan karakteristik ancaman keamanan maritim bersifat dinamis seiring dengan perkembangan teknologi dan globalisasi. Kejahatan yang terjadi di laut bersifat lintas negara dan cenderung terorganisir seperti pembajakan, penangkapan ikan tidak sah, penyelundupan narkoba, dan sebagainya. Untuk mengatasinya, diperlukan peningkatan efektivitas operasi, kesiapan alutsista dan profesionalisme prajurit matra laut. Disamping itu, kerja sama lintas instansi baik dalam negeri maupun dengan penegak hukum negara lain juga harus dilakukan.
Pada aspek Ideologi, munculnya kembali upaya oleh pihak tertentu yang mengganggu stabilitas keamanan dengan menyebarkan isu dan simbol-simbol ideologi terlarang terutama komunis. Secara sporadik, beberapa oknum atau kelompok masyarakat menampilkan simbol palu arit melalui media sosial, baju, spanduk, atribut dan lain-lain. Situasi ini tidak boleh dianggap remeh dan harus kita waspadai sebagai benteng negara. Komunisme adalah bahaya laten yang masih mungkin kembali hadir di Bumi Nusantara ini. (*)





