SULUT, Mediamanado.com – Henry Walukow menyampaikan bahwa Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) Provinsi Sulut amatlah penting untuk menata wilayah serta memenuhi kebutuhan masyarakat Sulut itu sendiri.
Hal ini disampaikan Walukow saat ditemui awak media di Ruang Paripurna DPRD Sulut, pada Senin (7/7/2025). Dirinya mengatakan bahwa Ranperda ini dibuat untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat, terutama terkait dengan pola ruang, struktur ruang, kawasan, dan zonasi.
“Perda ini nantinya akan menjawab berbagai kebutuhan masyarakat, baik soal usaha, pekerjaan, hingga infrastruktur. Tadi juga terungkap, masih ada 8 desa di Sulut yang belum menikmati listrik sama sekali,” ucap Walukow yang juga merupakan Ketua Pansus Ranperda RT/RW Provinsi Sulut tersebut.
“Coba bayangkan, Indonesia sudah merdeka puluhan tahun, tapi masih ada desa yang belum dialiri listrik. Padahal kalau listrik mati dua jam saja, sudah banyak yang komplain. Ini yang jadi perhatian kami,” tambahnya.
Melalui pembahasan Ranperda ini, kata dia, pemerintah daerah ingin menjawab ketimpangan dan kesenjangan pembangunan yang masih terjadi di beberapa wilayah.
Dalam pembahasan hari itu, Walukow menjelaskan bahwa pihaknya berdiskusi bersama mitra kerja, baik dari pihak eksekutif maupun instansi vertikal lainnya.
“Dari pertemuan tadi, kita sama-sama dapat tambahan wawasan yang sesuai dengan substansi Ranperda. Mudah-mudahan dalam satu bulan ke depan, kita bisa selesaikan target pembahasan ini,” ujarnya optimis.
Tahapan selanjutnya, Pansus akan masuk ke pembahasan pola ruang, yang akan melibatkan pemerintah kabupaten dan kota se-Sulut, terutama untuk membahas persoalan zonasi dan batas wilayah.
“Pembahasan masih berjalan sesuai jalur (on the track). Harapannya, semua bisa rampung dalam waktu dekat,” kata legislator dari Partai Demokrat ini.
Namun ia mengakui, pembahasan agak terkendala waktu karena saat ini DPRD sedang menggarap tiga Ranperda sekaligus.
“Teman-teman di Pansus ini juga ada yang terlibat di Ranperda tentang Pemuda dan Ranperda Rencana. Jadi memang harus pandai-pandai bagi waktu, karena tak mungkin setiap hari ada pembahasan,” pungkas Walukow.
(*/DM)





