MANADO, MediaManado.com – Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE mengatakan para Tokoh Agama, termasuk para Pendeta merupakan pemupuk toleransi, sehingga Asosiasi Pendeta tak pernah disangsikan kontribusinya terhadap toleransi itu sendiri.
Hal itu disampaikan Gubernur Olly yang diwakili Kaban Kesbangpol Daerah Provinsi Sulut, Evans Steven Liow S.Sos pada kegiatan Pentaloka dan Sarasehan Kerukunan serta Pelantikan Pengurus Asosiasi Pendeta Sulut periode 2021-2026 bertempat di Graha Bethany Wanea Manado, Senin (21/06/2021).
Menurut Gubernur Olly para Pendeta berada pada level tertinggi dalam kehidupan sosial masyarakat dengan mengajarkan praktek hidup cinta kasih, sekalian adalah penyebar dan pelakon kasih dalam keseharian kehidupan masyarakat.
Dengan begitu, tambah Gubernur Olly, Sulawesi Utara merupakan Bumi Toleransi, tempat dimana heterogenitas terlihat indah.
“Saya katakan demikian karena Sulawesi Utara secara kultural beriklim permisif, dimana saling pengertian antar komponen masyarakat, bukan merupakan sebuah pencitraan atau rekayasa semata,” ungkap Gubernur Olly.
“Toleransi adalah budaya kita. Toleransi adalah gaya hidup. Semua itu terangkum dalam sebuah pemahaman akan hakiki manusia Sulawesi Utara yaitu Torang samua ciptaan Tuhan. Jika terjadi tindakan intoleran di Sulut, maka dapat dipastikan tindakan tersebut bukan dilakukan oleh rakyat Sulut,” sambungnya sebagaimana dikutip Liow.
Ia menegaskan bahwa optimisme akan suasana damai sebagai buah dari toleransi di Bumi Nyiur melambai, bukanlah sesuatu yang tidak dapat dihancurkan.
“Maka peran para Pendeta untuk merawat pemahaman umat terhadap cinta kasih sesama manusia sangat penting untuk terus dilakukan,” ujarnya.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyambut gembira inisiatif-inisiatif dari para Pendeta untuk melaksanakan penataran dan lokakarya serta sarasehan dengan tema Toleransi, sebagai upaya merawat toleransi.
“Dari berbagai literatur, kita mengetahui bahwa semua tindakan intoleran yang telah terjadi disebabkan karena pemahaman yang keliru, wawasan yang kurang, dan pergaulan yang semplt sehingga mempengaruhi cara pandang yang berakibat pada cara tindak yang intoleran. Wujud dari sikap intoleran yang sering kita temui adalah kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal,” terang Gubernur Olly.
Kekerasan fisik paling mengerikan dilakukan melalui tindakan teror.
Maka, pendekatan keamanan memang penting dalam mengatasi terorisme, tapi yang bisa mencegah terjadi berulang-ulang adalah pendekatan sosial kemasyarakatan dengan mengisi pemahaman masyarakat seperti yang sedang dilakukan hari ini.
Selain kekerasan fisik, tindakan intoleran yang tak kalah merusak kehidupan masyarakat adalah kekerasan verbal. Ini semakin mengemuka dengan intensitas penggunaan media sosial yang semakin meningkat.
“Untuk itu, mari kita isi dinding-dinding media sosial dengan hal-haI positif. Cegah penyebaran kampanye paham radikal melalui penggunaan media sosial yang simpatik dan kreatif,” ajaknya.
Demikian pula dengan upaya membenturkan masyarakat menggunakan isu SARA. Kesemuanya itu sangat berbahaya, apabila tidak diantisipasi dan dicegah. Salah satu elemen masyarakat yang diharapkan dapat menjaga keseimbangan di tengah masyarakat adalah para Pendeta.
“Selaku tokoh agama, maka para pendeta sekalian diharapkan mampu menjadi lokomotif bagi toleransi antar umat beragama, antar suku dan antar ras yang ada di Sulawesi Utara,” tutup Liow mengutip sambutan Gubernur Olly. */ferry)






