Jenry Sualang Sebut Ada Cara Mumpuni Membuat Milenial Sulut Cintai Budaya Lokal

oleh
JENRY SUALANG SPD MAP, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut

Loading

JENRY SUALANG SPD MAP, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut
JENRY SUALANG SPD MAP, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut

MANADO, MediaManado.com – Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut Jenry Sualang SPd MAP mengakui derasnya perkembangan dan kemajuan teknologi, ikut berdampak pada kurangnya minat generasi milenial Sulut pada budaya lokal.

“Tak dapat dipungkiri, generasi milenial khususnya di era 4.0, sangat dipengaruhi kemajuan teknologi, hal ini membuat minat belajar sejarah dan budaya cenderung berkurang,” kata Sualang, Selasa (07/01/2020).

Padahal, tambah dia, generasi milenial patut mengetahui sejarah dan budaya lokal yang tersebar di 15 Kabupaten dan Kota se-Sulut.

“Kemajuan teknologi justru memperkaya kecerdasan intelektual. Namun perlu dimbangi dengan kecerdasan emosional dan sosial, salah satunya dengan menghargai budaya dan nilai-nilai yang ada di dalamnya,” tandas Sualang.

Untuk itu, maka tugas Dinas Kebudayaan sesuai Undang-undang nomor 5 tahun 2017 adalah membina dan mengembangkan seni dan budaya Indonesia.

Berdasarkan aturan itu, maka secara langsung negara memberikan tanggungjawab yang besar untuk membuat generasi milenial di Sulut untuk mencintai seni dan budaya.

Sualang pun menyayangkan banyak orang cerdas dan hebat, tapi tidak mencintai budayanya.

Melihat kondisi yang ada, maka pemerintah daerah terus menumbuhkembangkan minat milenial pada budaya lokal.

“Pemerintah Provinsi (Pemprov) sudah menyediakan museum, agar masyarakat bisa melihat budaya Sulut di satu tempat tanpa harus terpencar, tapi memang minat masyarakat lokal khususnya milenial masih kurang,” ungkap Sualang.

Namun, Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut terus melakukan terobosan dan lompatan pada 2020, diantaranya menggelar Pameran Lukisan dan Cerdas Cermat dengan tema sejarah dan museum sekaligus menyebarluaskan beragam informasi terkait kekayaaan budaya lokal.

“Target peserta adalah siswa dan anak muda Sulut. Diharapkan, melalui kegiatan ini, semakin banyak milenial yang tertarik dan belajar sejarah dan budaya lokal,” tutup Kadis Kebudayaan ini.

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak budaya yang mulai sulit ditemui, seperti permainan anak-anak, bahasa daerah katena tergerus oleh kemajuan teknologi.

Hal ini menjadi tantangan, dan menjadi tanggungjawab pemerintah daerah dan stakeholder untuk membuat generasi milenial agar mencintai budaya baik lewat lomba, pemeran maupun sosialisasi dan informasi, di mana generasi milenial bisa mengakses sekaligus menyalurkan rasa cinta mereka pada kekayaan budaya lokal. (Ferry)