MANADO, Mediamanado.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) melalui Program Studi D-IV Akuntansi Keuangan, Jurusan Akuntansi, turut mengambil bagian dalam Pelatihan PATUA Tahap III Tahun 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara.
Pelatihan yang berlangsung di Hotel Sentra Manado, 23–25 September 2026, tersebut diikuti petani binaan Bank Indonesia. Peserta berasal dari kelompok tani yang mengembangkan berbagai komoditas hortikultura maupun tanaman pangan semusim.
Cabai, tomat, bawang, jagung, dan padi menjadi sejumlah komoditas yang menjadi perhatian dalam pelatihan. Penguatan pengetahuan dan keterampilan peserta diarahkan agar pengelolaan usaha tani dapat dilakukan secara lebih baik, terukur, dan mampu menunjang keberlanjutan usaha.
Dalam kegiatan ini, Polimdo dipercaya untuk mengisi tiga materi pelatihan. Tugas tersebut dilaksanakan dua dosen Prodi D-IV Akuntansi Keuangan, yaitu Dominikus Andreo Maryadi, M.Ak., serta Andreas Randy Wangarry, S.E., M.S.A.
Materi diberikan pada hari kedua dan ketiga pelaksanaan kegiatan. Penyampaiannya dikemas dengan pendekatan yang aplikatif sehingga peserta dapat mengaitkan pengetahuan yang diperoleh dengan aktivitas usaha tani yang mereka jalankan.
Bukan hanya teori, proses pembelajaran juga dilengkapi dengan studi kasus. Contoh-contoh yang digunakan disesuaikan dengan komoditas pertanian peserta sehingga pembahasan menjadi lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan usaha sehari-hari.
Ketua Program Studi D-IV Akuntansi Keuangan Polimdo, Prof. Dr. Hedy Rumambi, SE.Ak., MM., turut hadir memberikan pendampingan selama kegiatan berlangsung. Sejumlah mahasiswa dari program studi tersebut juga diterjunkan untuk membantu peserta ketika memasuki sesi praktik.
Hedy menilai keterlibatan Polimdo dalam kegiatan yang digagas Bank Indonesia tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan pembelajaran di lingkungan kampus dengan kebutuhan masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi wujud pembelajaran berbasis pengalaman nyata bagi mahasiswa kami, sekaligus bentuk kontribusi konkret program studi dalam mendampingi masyarakat, khususnya petani binaan Bank Indonesia,” kata Hedy.
Ia menjelaskan, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana ilmu yang selama ini dipelajari di ruang perkuliahan dapat digunakan ketika berhadapan dengan kondisi dan persoalan nyata di masyarakat.
Menurut Hedy, pengalaman tersebut penting dalam membangun kemampuan mahasiswa. Mereka tidak hanya dituntut memahami aspek akademik, tetapi juga harus mampu berkomunikasi, memahami kebutuhan masyarakat, serta memberikan pendampingan sesuai kompetensi yang dimiliki.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penerapan konsep experiential learning di Prodi D-IV Akuntansi Keuangan Polimdo. Melalui pola pembelajaran ini, pengalaman di lapangan menjadi bagian dari proses pembentukan kompetensi mahasiswa.
Sementara bagi masyarakat, keterlibatan perguruan tinggi vokasi dapat menjadi tambahan dukungan dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha.
Pengetahuan yang diberikan diharapkan dapat membantu peserta melihat usaha pertanian bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari aspek pengelolaan usaha secara lebih menyeluruh.
Pelatihan PATUA Tahap III juga melibatkan narasumber dari berbagai bidang. D&D Indonesia memberikan materi terkait hilirisasi produk pangan, Bitanic membahas pemanfaatan teknologi pertanian, sedangkan Konsultan FPPU KIS menyampaikan materi mengenai evaluasi program dan legalitas koperasi.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari dan ditutup pada 25 September 2026. Pelaksanaan pelatihan menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia dan para mitra dalam meningkatkan kapasitas petani binaan di Sulawesi Utara.
Bagi Polimdo, keterlibatan dalam kegiatan tersebut sekaligus memperkuat komitmen perguruan tinggi vokasi untuk menghadirkan pembelajaran yang terhubung dengan kebutuhan dunia usaha dan masyarakat.
Kolaborasi dengan Bank Indonesia juga membuka ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Melalui sinergi tersebut, kompetensi yang dikembangkan di kampus diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas di luar lingkungan pendidikan.
(YB)





