Manado, mediamanado.com – Masalah obesitas pada remaja kini tidak hanya terjadi di perkotaan besar, tetapi juga mulai merambah ke lingkungan pesantren. Pola makan tinggi kalori, kebiasaan duduk terlalu lama, serta minimnya akses informasi kesehatan menjadi faktor utama meningkatnya risiko kelebihan berat badan pada santri. Menyikapi hal ini, tim dosen lintas program studi dari Universitas Sam Ratulangi menggelar program “Santri Sehat Tanpa Obesitas” yang menyatukan edukasi gizi, pemanfaatan suplemen kesehatan, aktivitas fisik, serta penggunaan aplikasi berbasis Android sebagai sumber informasi kesehatan remaja.
Kegiatan ini berlangsung di salah satu madrasah tsanawiyah di Manado dan diikuti oleh puluhan santri. Sejak pagi, suasana madrasah tampak berbeda. Para santri duduk rapi dan mendengarkan pemaparan dari para dosen mengenai pentingnya menjaga pola makan seimbang. Materi yang disampaikan tidak hanya seputar teori, tetapi juga praktik langsung pembuatan alternatif camilan sehat yaitu snack bar tempe.
Selain edukasi gizi, tim juga memperkenalkan suplemen kesehatan yang dapat menunjang metabolisme tubuh, terutama bagi remaja dengan kebutuhan energi tinggi. Namun, penekanan diberikan bahwa suplemen bukanlah pengganti makanan bergizi, melainkan hanya pendukung. Peserta diajak untuk memahami cara memilih suplemen yang tepat, aman, dan tidak berlebihan.
Acara semakin semarak ketika para santri diajak melakukan aktivitas fisik bersama, berupa senam kebugaran sederhana yang dirancang agar mudah diterapkan sehari-hari, baik di asrama maupun di rumah. Gelak tawa terdengar saat santri mencoba beberapa gerakan yang awalnya terasa sulit, namun kemudian diikuti dengan penuh semangat. Aktivitas ini menjadi bukti bahwa olahraga tidak harus mahal dan rumit, melainkan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.
Yang tidak kalah menarik, tim dosen juga memperkenalkan sebuah aplikasi berbasis Android yang berfungsi sebagai sumber informasi kesehatan remaja. Aplikasi ini memuat panduan pola makan sehat, tips aktivitas fisik, serta fitur untuk memantau kebiasaan harian. Para santri tampak antusias saat mencoba mengunduh aplikasi tersebut di ponsel mereka. Dengan sentuhan teknologi, informasi kesehatan kini bisa diakses lebih mudah, bahkan oleh santri yang sebelumnya kurang terpapar edukasi digital.
Ketua tim pengabdian menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah meningkatkan kesadaran santri akan pentingnya menjaga berat badan ideal. “Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa obesitas bisa dicegah sejak dini dengan gizi seimbang, aktivitas fisik yang konsisten, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung gaya hidup sehat,” ujarnya.
Para guru madrasah memberikan apresiasi yang tinggi atas program ini. Salah seorang guru menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat, mengingat banyak santri mulai mengalami kelebihan berat badan. “Dengan adanya edukasi ini, kami semakin sadar bahwa kesehatan santri harus menjadi perhatian utama. Aplikasi berbasis Android juga sangat membantu karena santri bisa belajar mandiri kapan pun,” katanya.
Tidak hanya guru, para santri pun mengaku senang dengan kegiatan ini. Salah satu santri kelas VIII, menuturkan, “Biasanya kami sering jajan makanan cepat saji di luar pesantren. Setelah ikut penyuluhan ini, saya jadi tahu bahwa terlalu banyak makanan berlemak bisa bikin cepat gemuk.”
Program Santri Sehat Tanpa Obesitas ini mendapat dukungan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian
Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri tidak hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga sehat secara jasmani, siap menghadapi masa depan dengan fisik yang bugar dan pengetahuan gizi yang memadai.
Dengan semangat kolaborasi antara dunia pendidikan, teknologi, dan masyarakat, pesantren kini bukan hanya menjadi tempat mendidik generasi berakhlak, tetapi juga melahirkan generasi sehat tanpa obesitas. (***)





