BITUNG, Mediamanado.com — Sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak untuk belajar. Namun, insiden yang menimpa seorang siswa SD Katolik Stella Maris Girian justru memunculkan pertanyaan serius tentang keselamatan lingkungan sekolah.
Seorang siswa berusia 8 tahun, Salomo Baware, dilaporkan mengalami luka bakar setelah terpeleset di tangga sekolah dan terkena minyak panas yang berasal dari penggorengan kantin.
Peristiwa tersebut membuat tubuh korban melepuh dan harus mendapat perawatan medis di rumah sakit.

Orangtua Salomo menuturkan, dirinya mendapat informasi dari wali kelas saat sedang mengajar. Kabar tersebut menyebutkan bahwa anaknya mengalami musibah di sekolah terjatuh dari tangga dan harus segera dibawa ke rumah sakit.
Setibanya di lokasi, orangtua korban mengaku terkejut melihat kondisi anaknya.
“Badan anak saya bukan luka lecet terjatuh dari tangga, tetapi melepuh. Ternyata terkena minyak panas dari penggorengan kantin di sekolah,” ungkapnya kepada media ini.
Menurut orangtua korban, insiden tersebut bukan sekadar persoalan kecelakaan, melainkan menyangkut keamanan fasilitas sekolah yang digunakan setiap hari oleh para siswa.
Ia mempertanyakan keberadaan kantin yang berada di bawah tangga, mengingat area tersebut menjadi akses lalu lintas siswa.
“Harusnya kantin tidak berada di tempat itu. Banyak siswa menggunakan akses tangga tersebut,” ujarnya.
Orangtua Salomo meminta pihak sekolah bertanggung jawab atas dampak fisik maupun biaya pengobatan yang timbul akibat kejadian tersebut.
Meskipun korban terdaftar dalam layanan BPJS Kesehatan, menurut orangtuanya, masih terdapat kebutuhan pengobatan, termasuk salep luka bakar, yang tidak seluruhnya ditanggung.
Karena itu, pihak keluarga berharap sekolah tidak hanya memberikan penanganan awal, tetapi juga memastikan kebutuhan pemulihan korban terpenuhi.
Kepala SD Katolik Stella Maris Girian, Henny Maria Larage, S.Pd., saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa benar ada siswa kelas 3 jatuh dari tangga.
Pasca kejadian, kami pihak sekolah langsung membawa korban ke RSUD Manembo-nembo untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Larage juga menyatakan pihak sekolah telah menyampaikan persoalan tersebut kepada yayasan.
“Kami bertanggung jawab. Kalau ada biaya di luar tanggungan BPJS, orangtua bisa langsung ke sekolah untuk mengajukan penggantian biaya pembelian obat,” jelasnya.
Terkait keberadaan kantin di bawah tangga, pihak sekolah memastikan akan melakukan pemindahan demi meningkatkan keamanan siswa, “Kantin akan dipindahkan,” tegas Larage.
Keselamatan Siswa Tak Boleh Jadi Persoalan yang Diabaikan
Insiden ini menjadi pengingat bahwa setiap sudut lingkungan sekolah harus memperhatikan aspek keselamatan, terutama area tangga yang menjadi jalur aktivitas siswa.
Penempatan aktivitas memasak dan penggunaan minyak panas di sekitar jalur lalu lintas anak-anak patut dievaluasi secara serius agar kejadian serupa tidak terulang.
Kini, perhatian tertuju pada proses pemulihan Salomo serta langkah nyata pihak sekolah dan yayasan dalam membenahi fasilitas kantin dan memastikan lingkungan belajar benar-benar aman bagi seluruh siswa.
Sekolah bukan sekadar tempat mengejar prestasi akademik. Keselamatan anak harus menjadi prioritas utama.





