BITUNG, Mediamanado. com – Kepedulian terhadap sesama tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya. Prinsip sederhana inilah yang dipegang Aiptu Suyadi Duhe, personel Polsek Maesa, Polres Bitung, bersama istri tercinta dalam menjalankan aksi sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Berawal dari kebiasaan menyisihkan sebagian hasil usaha kue sang istri, pasangan ini kini mengambil langkah nyata dengan menghadirkan tempat belajar mengaji bagi anak-anak di kawasan pesisir Kuala Girian Weru I, Kota Bitung.
Melalui kerja sama dengan masyarakat dan pengurus Masjid Al-Muttaqin, sebuah bangunan pos kesehatan desa (poskesdes) yang lama terbengkalai akibat banjir direhabilitasi dan dimanfaatkan menjadi Taman Pengajian POLSAMA (Polisi Bersama Masyarakat).
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, bahkan dari hasil usaha keluarga.
Di hadapan Kapolres Bitung AKBP Aris Sulistyo Nugroho, S.I.K., M.H., serta sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga, Suyadi menceritakan perjalanan keluarganya dalam membangun kebiasaan berbagi sejak 2012.
“Kami menyadari bahwa tidak perlu kaya untuk bisa bersedekah,” ungkap Suyadi dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, pada awalnya, bantuan yang diberikan masih terbatas pada beberapa paket sembako untuk para janda dan warga lanjut usia. Jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga.
Namun, seiring berjalannya waktu, usaha kue milik istrinya berkembang secara bertahap. Usaha yang memproduksi berbagai kue, termasuk kue kering untuk Lebaran dan Natal, menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga sekaligus jalan untuk membantu sesama.
Bagi Suyadi dan istrinya, bertambahnya penghasilan bukan semata-mata untuk mengumpulkan kekayaan, tetapi juga memperluas kesempatan berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dalam sambutannya, Suyadi juga menceritakan bahwa keluarganya memiliki sejumlah momen istimewa yang selalu berupaya dimanfaatkan untuk bersedekah.
Di antaranya, ulang tahun dirinya pada 15 April, ulang tahun anak-anak pada 31 Juli dan 1 September, ulang tahun sang istri pada 10 Oktober, serta hari pernikahan mereka setiap 20 Oktober.
Selain momen keluarga tersebut, hari raya keagamaan juga menjadi kesempatan untuk berbagi rezeki.
Pada Oktober 2026, ulang tahun sang istri bertepatan dengan peringatan HUT Kota Bitung pada 10 Oktober. Sementara itu, peringatan hari pernikahan mereka dilaksanakan pada 20 Oktober melalui doa bersama.
Bagi pasangan ini, perayaan keluarga bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat untuk selalu bersyukur dan menyisihkan sebagian rezeki bagi orang lain.
Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi kegiatan sosial yang menyentuh bidang pendidikan dan keagamaan.
Berawal dari Membantu Fadli Kembali Bersekolah
Kepedulian Suyadi terhadap anak-anak pesisir semakin berkembang ketika ia mengetahui kondisi seorang anak bernama Fadli yang tinggal bersama nenek dan kakak-kakaknya di sebuah tempat kos.
Suyadi membantu menyediakan seragam lengkap dan perlengkapan sekolah serta mengupayakan agar Fadli dapat kembali bersekolah di SD Cendekia.
Dalam proses pendampingan tersebut, ia kemudian mengetahui bahwa Fadli pernah mengikuti pendidikan di pondok pesantren dan memiliki kemampuan mengaji.
Selain Fadli, terdapat pula sejumlah pemuda di kawasan tersebut yang memiliki kemampuan mengajar membaca Al-Qur’an.
Dari sinilah muncul gagasan untuk menyediakan tempat belajar mengaji yang dapat dimanfaatkan anak-anak di lingkungan pesisir.
Suyadi mengaku bersyukur karena tindakan membantu Fadli tersebut mendapat penghargaan dari Kapolres Bitung. Ia juga menyebut adanya apresiasi dari pihak Fakultas TISI Merdeka Manado, sebagaimana disampaikannya dalam sambutan.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa kepedulian terhadap pendidikan anak dapat dimulai dari langkah nyata, tanpa harus menunggu program besar atau bantuan dalam jumlah banyak.
Poskesdes Bekas Banjir Disulap Jadi Taman Pengajian
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Suyadi bersama masyarakat kemudian melihat sebuah bangunan poskesdes di Girian Weru I yang sudah lama tidak difungsikan setelah terdampak banjir.
Bangunan itu sebelumnya terendam banjir dengan ketinggian air lebih dari satu meter. Lumpur dan tanah masuk hingga memenuhi ruangan, menyebabkan fasilitas tersebut tidak lagi digunakan selama beberapa tahun.
Melihat kondisi itu, Suyadi bersama masyarakat berinisiatif membersihkan dan merehabilitasi bangunan agar dapat dimanfaatkan kembali.
Pekerjaan yang dilakukan meliputi penggalian dan pengangkatan lumpur serta tanah, pembersihan ruangan, pengecatan kembali, hingga pemasangan pembatas dan penghalang air untuk mengantisipasi masuknya air.
Upaya tersebut dilakukan agar bangunan yang sebelumnya terbengkalai dapat memiliki fungsi baru yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui kerja sama dengan Masjid Al-Muttaqin dan masyarakat setempat, tempat itu kemudian diarahkan menjadi Taman Pengajian POLSAMA.
Dalam kegiatan tersebut, Suyadi menyerahkan bantuan Al-Qur’an kepada jemaah Masjid Al-Muttaqin serta buku metode Iqra kepada anak-anak di kawasan pesisir.
Ia berharap keberadaan taman pengajian dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar membaca Al-Qur’an, memperdalam ilmu agama, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif.
POLSAMA, Makna Polisi Hadir Bersama Masyarakat
Suyadi menjelaskan, nama POLSAMA merupakan singkatan dari Polisi Bersama Masyarakat.
Nama tersebut dipilih untuk menggambarkan semangat kebersamaan antara anggota Polri dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sosial di lingkungan sekitar.
Menurutnya, kehadiran polisi tidak hanya berkaitan dengan penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian, kemauan mendengar keluhan warga, dan upaya mencari solusi sesuai kemampuan serta kewenangan yang dimiliki.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Bitung atas arahan agar personel terus membangun kedekatan dengan masyarakat dan memberikan manfaat nyata.
Bagi Suyadi, keberadaan Taman Pengajian POLSAMA merupakan salah satu bentuk kontribusi yang bisa dilakukan anggota Polri bersama warga.
Ia berharap tempat tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dirawat bersama sehingga anak-anak pesisir memiliki lingkungan belajar agama yang lebih baik.
Kapolres dan Tokoh Masyarakat Turut Hadir
Kegiatan tersebut dihadiri Kapolres Bitung AKBP Aris Sulistyo Nugroho, S.I.K., M.H., Imam Masjid Al-Muttaqin Arifin Moha, Ketua BTM Masjid Al-Muttaqin Abdul Natip Anggay, Lurah Girian Weru I Marlin Pratasis, serta Ketua Baznas sekaligus penyuluh Kementerian Agama Kota Bitung Hamdani Paransa.
Hadir pula tokoh pemuda, Ketua Pemuda Bitung Bersatu Nando Lengkong, Sekretaris Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Bitung Mujakir Bofen, AKP Tuegede Darus, S.Sos., Kabagren Polres Bitung Haji Nyoto, serta Anton Midu yang turut menggagas kegiatan bersama masyarakat pesisir.
Suyadi juga didampingi istrinya, yang menjalankan usaha Abyal Cake and Cookies sejak 2010.
Di akhir sambutannya, ia berharap kebiasaan bersedekah dapat terus dipupuk, baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.
Menurutnya, membantu orang lain tidak harus selalu melalui bantuan besar. Sesuai kemampuan, setiap orang dapat mengambil bagian dalam menghadirkan perubahan bagi lingkungan sekitarnya.
Dari hasil usaha kue, lahir kepedulian. Dari kepedulian, bangunan terbengkalai kembali dimanfaatkan. Dan dari kebersamaan, anak-anak pesisir kini diharapkan memiliki ruang untuk belajar mengaji.
Semangat itulah yang ingin dihadirkan melalui Taman Pengajian POLSAMA di Kuala Girian Weru I, Kota Bitung.
Di kesempatan itu, Kapolres Bitung AKBP Aris Sulistyo Nugroho, S.I.K., M.H., memberikan apresiasi terhadap aksi sosial Aiptu Suyadi Duhet yang bersama masyarakat merehabilitasi bangunan poskesdes bekas banjir menjadi Taman Pengajian POLSAMA (Polisi Bersama Masyarakat) di kawasan pesisir Kuala Girian Weru I.
Dalam sambutannya, Kapolres menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan contoh nyata kehadiran polisi yang mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, aksi yang dilakukan Suyadi sejalan dengan semangat Polri untuk terus membangun kedekatan dan kebersamaan dengan masyarakat.
“Apa yang dilakukan ini bisa memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Inilah yang diharapkan saat ini, sesuai dengan semangat yang disampaikan Bapak Kapolri, yaitu polisi bersama masyarakat,” ungkap Kapolres.
Ia mengaku bangga karena kepedulian Suyadi tidak berhenti pada pelaksanaan tugas sebagai anggota Polri, tetapi diwujudkan melalui tindakan sosial yang menyentuh kebutuhan masyarakat, khususnya anak-anak di kawasan pesisir.
Kapolres juga menyoroti pernyataan Suyadi yang mengaku tidak kaya, tetapi tetap berusaha menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu sesama.
Menurut Kapolres, kekayaan seseorang tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari ketulusan hati dan kepeduliannya terhadap orang lain.
“Beliau tadi menyampaikan bahwa dirinya biasa-biasa saja dan tidak kaya. Sebenarnya, beliau sangat kaya, kaya dengan hati yang luar biasa,” ujar Kapolres.
Ia berharap kepedulian tersebut menjadi amal ibadah sekaligus inspirasi bagi anggota Polri dan masyarakat luas untuk terus menumbuhkan semangat berbagi.
Harapkan Lahir Generasi Berprestasi dari Taman Pengajian
Kapolres Bitung juga berharap keberadaan Taman Pengajian POLSAMA dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan generasi muda di Kota Bitung.
Menurutnya, pendidikan agama sejak dini merupakan salah satu upaya membentuk karakter anak agar memiliki pedoman hidup, menjauhi perilaku negatif, dan mampu meraih masa depan yang lebih baik.
Ia berharap tempat tersebut kelak dapat melahirkan generasi yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki prestasi dan mampu memberikan kontribusi bagi daerah.
“Insyaallah, siapa tahu anak-anak kita ini nantinya bisa menjadi dai-dai, menjadi anak-anak berprestasi, terhindar dari berbagai masalah, serta lebih sukses untuk generasi muda ke depan,” tuturnya.
Kapolres juga membuka harapan agar dari lingkungan tersebut muncul bibit-bibit unggul yang dapat mengharumkan nama Kota Bitung melalui ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).
Ia mengaku bangga dengan inisiatif Suyadi dan berharap kegiatan serupa terus dikembangkan sehingga semakin banyak anak mendapatkan kesempatan belajar dan mengembangkan potensi diri.
Apresiasi Masyarakat dan Semangat Torang Samua Basudara
Selain memberikan apresiasi kepada Suyadi, Kapolres turut menyampaikan terima kasih kepada masyarakat setempat dan pemerintah yang mendukung pemanfaatan bangunan tersebut sebagai tempat pengajian.
Menurutnya, kebersamaan antara aparat, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat merupakan kekuatan penting dalam membangun lingkungan yang harmonis.
Kapolres juga menyinggung nilai persaudaraan yang menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Utara, yakni Torang Samua Basudara.
Baginya, perbedaan agama tidak seharusnya menjadi penghalang untuk saling membantu, melainkan menjadi alasan untuk terus menjaga kerukunan dan memperkuat persaudaraan.
“Inilah hebatnya Sulawesi Utara. Kita hidup berdampingan, saling mendukung, karena moto Sulawesi Utara adalah Torang Samua Basudara. Apa pun agamanya, yang penting kita semua bersaudara,” tegasnya.
Ia berharap semangat tersebut terus terpelihara di Kota Bitung, sehingga kepedulian sosial seperti yang dilakukan Suyadi dapat menjadi contoh nyata bahwa kebersamaan mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.







