MITRA, MediaManado.com – Tiga ABK Kapal Nelayan KM Aldira 45, akhirnya ditemukan dan bisa pulang ke rumah di Belang, Jumat (12/02/2021), setelah beberapa hari dinyatakan hilang.
Ketiga ABK itu yakni Hilman Abraham (38) Teja Paputungan (21) Ading Samsudin (39).
Mereka turun dari KM Aldira 45, lalu menggunakan perahu Ayuda menuju rakit penampungan ikan. Sayangnya, perahu Ayuda mengalami kerusakan mesin. Hal inilah menyebabkan ketiganya terbawa arus laut.
Letkol Laut (P) Asops Danlantamal Vlll, Pantun Ujang kepada awak media menyatakan syukur, karena para nelayan yang hanyut, akhirnya sudah bisa pulang.
“Saat kami mendapat info bahwa ada nelayan yang hanyut, kami langsung bergerak cepat mempersiapkan semua perlengkapan untuk melakukan pencarian,” ungkap Ujang saat melakukan pengecekan Kapal KM Aldira 45 di Pelabuhan Belang.
Ia menambakan begitu dapat kabar pihaknya mengumpulkan semua kekuatan yang ada dan bergerak melakukan pencarian.
“Semua kekuatan yang ada kami kumpulkan dan Angkatan Laut sendiri menyiapkan kekuatan lokal yang ada di Bitung dan Kapal Patroli yang berada di Laut Sulawesi juga kami siapkan. Ini semua kami laksanakan untuk merespon laporan yang masuk,” terang Ujang.
Dijelaskan, pada tanggal 06-02-2021 Kapal Nelayan KM Aldira 45 dengan 16 ABK dan 1 Nakoda, bertolak dari Pelabuhan Belang menuju laut , dengan Koordinat 0:33 N 125.14 E.
Pada tanggal 09/02/2021 KM Aldira 45 Tanam ikan di Rakit yang berjarak 40 mil dari darat, dan di lanjutkan ke rakit yang kedua, 16:00, ketiga ABK turun dari Kapal dengan menggunakan perahu Ayuda menuju rakit. Namun sampai jam 20:00 malam belum juga kembali ke Kapal, sehingga Kapten Kapal langsung melakukan pencarian.
Sukardi Mokoginta yang merupakan pemilik KM Aldira 45, pada 10/02/2021 pada jam 17:05 melapor ke Syahbandar Belang, sehubungan dengan hilangnya ketiga ABK tersebut.
Pihak Syahbandar Edwin Maengkom, ketika mendapat laporan langsung berkoordinasi dengan pihak BASARNAS, POLAIR, TNI AL, BNPB.
Salah satu nelayan hanyut, Hilman Abraham mengatakan awalnya mereka bertiga menuju rakit untuk mengecek jika ada ikan, maka akan memasang lampu. Saat hendak kembali ke kapal sehabis dari rakit, mesin mengalami kerusakan sehingga mereka hanyut terbawa arus.
“Saat mau pulang, mesin mengalami kerusakan, sehingga kami mencoba perbaiki perbaiki. Namun arus dan angin cukup kencang sehingga saat mesin selesai diperbaiki kami sudah jauh terbawa arus, yang kelihatan hanya beberapa lampu rakit dari kejauhan, sehingga kami putuskan mencari rakit yang terdekat,” tutur Abraham.
Sampai di rakit yang dituju ketiga nelayan tersebut langsung turun di rakit, namun rakit tersebut tidak memiliki radio, akhirnya mereka beristirahat dan makan di situ.
“Kami menunggu di rakit sambil berharap ada kapal yang lewat. Saat malam hari, ada kapal yang lewat. Kami mencoba membakar kain sebagai tanda, namun sayang karena cuaca yang kurang baik , kapal yang lewat tidak bisa melihat kami,” tambahnya.
Setelah 2 malam berdiam di rakit , Meski bahan bakar menipis, namun akhirnya ketiga nelayan tersebut berusaha mencari rakit lain yang miliki radio, agar keberadaan mereka bisa terlacak.
” Bahan bakar kami sangat menipis namun jalan keluar, kami harus mencari rakit lain yang ada radio. Akhirnya kami putuskan menuju rakit Palopo, dan akhirnya kami bisa sampai meski setibanya bahan bakar sudah sangat sedikit, tidak sampai setengah liter,” terang Abraham.
(Alfian Soriton)







